PARUNG PANJANG – Kecelakaan maut yang melibatkan truk tambang kembali menelan korban jiwa di kawasan Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Insiden yang menimpa seorang warga Tangerang ini memicu reaksi keras dari tokoh publik Dedi Mulyadi, yang memberikan peringatan tegas terkait pembiaran konflik antara kendaraan logistik berat dan aktivitas warga.
Peristiwa tragis ini terjadi ketika seorang pengendara motor asal Tangerang tewas setelah terlindas truk tambang di jalan raya Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Kecelakaan ini bermula saat korban diduga terperosok atau bersenggolan dengan kendaraan besar di jalur yang memang dikenal padat oleh lalu lintas tambang. Pihak kepolisian segera mengamankan lokasi, sementara jenazah korban dievakuasi ke RSUD terdekat.
Menanggapi kejadian yang terus berulang, Dedi Mulyadi angkat bicara dan memberikan peringatan serius kepada pihak-pihak terkait. Menurutnya, masalah ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan dampak dari kebijakan tata ruang dan logistik yang tidak sinkron.
Dedi menekankan bahwa nyawa manusia tidak boleh dikorbankan demi kelancaran bisnis tambang. Ia mendesak pemerintah daerah untuk lebih tegas dalam menegakkan jam operasional truk. Ia kembali menyuarakan pentingnya percepatan pembangunan jalan tol khusus tambang agar kendaraan besar tidak lagi melintasi pemukiman padat penduduk.
Dedi menyayangkan lemahnya pengawasan di lapangan yang membuat truk-truk besar tetap melintas di luar jam yang ditentukan.
Kawasan Parung Panjang telah lama menjadi sorotan akibat seringnya terjadi kecelakaan yang melibatkan truk tronton. Debu, jalan rusak, dan tingginya angka fatalitas kecelakaan menjadi “makanan sehari-hari” bagi warga sekitar. Meski aturan jam operasional telah dibuat, implementasinya di lapangan sering kali tumpul, memicu kemarahan publik yang puncaknya terlihat pada berbagai aksi protes warga belakangan ini.













